RESENSI NOVEL "BUMI CINTA"
Judul : BUMI CINTAPengarang : Habiurrahman El-Shirazy
Penerbit : BASMALA
Tebal : 546 halaman
Harga : Rp 55.000,- Resentator : Arwandi Harahap
Ceritanya dimulai ketika seorang santri salaf jebolan sarjana Universitas Madinah bernama Muhammad Ayyas sedang melakukan riset untuk tesis S-2 nya di Rusia yang berkaitan dengan sejarah Islam pada pemerintahan Stalin.
Ayyas langsung disambut oleh Devid, teman lamanya dan mengantarkannya menuju apartemen yang telah disiapkannya untuk Ayyas. Karena terbatasnya budget yang dimiliki Ayyas, Devid hanya bisa mencarikan apartemen yang berbagi dengan orang lain. Parahnya, teman seapartemennya adalah dua gadis Rusia yang jelita. Disinilah awal perjalanan ujian iman seorang Ayyas.
Yelena adalah seorang pelacur kelas atas dan Linor adalah seorang pemain biola yang kemudian diketahui merupakan agen rahasia mossad. Apartemen tersebut hanya memiliki tiga kamar yang memaksa Ayyas melakukan interaksi dengan mereka di dapur dan ruang tamu. Inilah cobaan pertama bagi Ayyas yang harus menjaga kesuciannya sebagai seorang muslim.
Ternyata cobaannya tidak hanya sampai disitu. Dosen pembimbing yang menjadi rujukan dosennya di Delhi tidak dapat membimbingnya karena mendapatkan tugas negara dan menyerahkan tugasnya kepada asistennya. Ternyata sang asisten merupakan seorang gadis muda jelita, Anastasia Palazzo, yang juga seorang penganut Kristen ortodoks yang taat.
Interaksi yang intens sang asisten dengan Ayyas menimbulkan rasa simpati yang lebih di hati Anastasia kepada Ayyas. Ketertarikan itu pun kian hari kian menguat. Di lain pihak Yelena tengah dilanda konflik dengan sang mucikari dan Linor sang agen Mossad tengah menyiapkan rencana jahat kepada Ayyas, yaitu menyiapkan rekayasa fitnah sebuah pengeboman yang diarahkan agar Ayyas sebagai pelakunya.
Dalam novel bumi cinta, Habiburrahman El-Shirazy kembali menampakkan sosok yang sempurna. Tidak ada masalah besar yang menerpa Ayyas seperti yang kita dapatkan pada novel-novel sebelumnya, seperti Fahri yang sempat di penjara ( Ayat-Ayat Cinta) dan Furqon yang sempat divonis mengidap HIV ( Ketika Cinta Bertasbih). Di sini tokoh Ayyas hanya “nyaris” dipenjara karena difitnah melakukan pengeboman di Hotel Metropole oleh Linor.
Pada novel ini, Habiburrahman El-Shirazy kembali menunjukkan kelebihannya. Dia mampu menceritakan keindahan Rusia meskipun dia pernah menjejakkan kakinya di Rusia. Dengan bahasanya, sang pengarang menyihir para pembaca, seolah-olah pengarang pernah berkunjung ke negeri beruang tersebut.
Bumi Cinta sebagaimana novel Kang Abik sebelumnya memang menawarkan sebuah kisah romansa yang sangat indah dengan tetap dibalut nilai-nilai Islami. Novel ini mampu membangunkan jiwa-jiwa terlelap akan kelalaian mensyukuri nikmat Tuhan. Sangat layak dibaca dan dikoleksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar